Pusat Kajian Sosial Politik
Universitas Muhammadiyah Malang
Pusat Kajian Sosial Politik
Universitas Muhammadiyah Malang

Strategi Penguatan Organisasi Pelayanan Sosial Berbasis Keagamaan

Dr. Fauzik Lendriyono, M.Si (IKS) dengan judul “Strategi Penguatan Organisasi Pelayanan Sosial Berbasis Keagamaan” pada Rabu, 22 Februari 2017 

Perlu dijelaskan sebelumnya tentang apa yang dimaksud dengan organisasi pelayanan sosial atau yang diistilahkan sebagai Human Services Organization (HSO). Sebagian orang awam memahami kalau organisasi pelayanan sosial itu adalah organisasi yang membawa misi sosial untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Misi sosial ini seringkali juga dipahami sebagai aktifitas charity yang ‘tabu’ membicarakan soal provite. Pemahaman seperti ini tidaklah terlalu salah, namun perlu untuk diluruskan supaya pemahaman tentang organisasi pelayanan sosial menjadi lebih terarah. Jadi issue pertama kita adalah meluruskan HSO sebagaimana konsepnya.

Issue kedua, terkait dengan istilah berbasis keagamaan. Organisasi pelayanan sosial berbasis keagamaan bisa jadi dipahami semua orang sebagaimana issue pertama ditambahkan berbasis keagamaan yang diartikan membawa nilai agama sebagai misi utamanya. Pemahaman seperti ini juga tidaklah salah karena memang seharusnya seperti itu. Nilai-nilai agama dijadikan sebagai pedoman yang tidak saja dikenakan pada aktor organisasi tetapi juga kepada obyek organisasi. Aktor organisasi adalah mereka yang mengurus organisasi sedangkan obyek organisasi adalah mereka yang diurus organisasi.

Kita bisa mengambil contoh tentang bagaimana peran-peran sosial organisasi masyarakat (ormas) berbasis keagamaan terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Bahkan kedua ormas tersebut mungkin yang terbesar di dunia. Keduanya sudah dikenal masyarakat dengan peran-peran sosialnya melalui berbagai program kemasyarakatannya. Bukti bahwa kedua ormas keagamaan ini mampu berperan sosial adalah eksistensinya yang hingga sekarang sangat kuat berpengaruh dalam perekonomian dan perpolitikan bangsa. Dapat dipastikan pula bahwa kedua ormas keagamaan ini juga memiliki strategi berbasis struktur sosial, multicultural, religious dengan dukungan massa yang fanatic atau ‘emosional’.

Lantas mengapa organisasi massa berbasis keagamaan ini berjuang untuk mendapat dukungan masyarakat (umat)? 

Shared: